Introduction of “Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic”

 

Definition of Paradigm

A paradigm is a standard, perspective, or set of ideas. A paradigm is a new way of looking or thinking about something. When you change paradigms, you are changing how you think about something.

Definition of  Psychology

The simple definition of Psychology is that it is the study of the mind and the behavior. Psychology refers to the study of human behavior and the human mind, or the mental attitude of a group. Psychology is more than just an academic subject.

Definition of Personality

Personality can be defined as the distinctive and characteristic patterns of thought, emotion and behavior that make up an individual’s personal style of interacting with physical and social environment.

Teori – Teori Psikologi

Secara umum ada beberapa aliran dalam teori psikologi, aliran tersebut digolongkan menjadi lima kelompok yang biasa disebut The Big Five, yaitu:

  1. Strukturalisme
  2. Fungsionalisme
  3. Psikoanalisis
  4. Behaviorisme
  5. Humanistic

Masing-masing aliran dalam The Big Five memiliki karakter dan spesifikasi yang berbeda-beda. Pada dasarnya aliran dalam The Big Five memiliki sebutan masing-masing yaitu alam bawah sadar (Psychoanalitic Psychology), lingkungan sekitar (Behavioral Psychology), pengalaman hidup (Humanistic Psyhcology), factor mental (Cognitive Psychology) dan fungsi biologis (Biological Psychology).

Teori Psikoanalitik

Teori Psikoanalitik dikembangkan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis dipandang sebagai teknik terapi. Psikoanalitik berbicara mengenai kepribadian, terutama mengenai struktur, dinamika dan perkembangan kepribadian.

Menurut buku Atkinson & Hilgard’s Introduction to Psychology, 15th edition.

The basic assumption of the psychoanalytic perspective is that behavior stems from unconscious processes, meaning beliefs, fears, and desires that a person is unaware of but that nonetheless influence behavior. Freud believed that many of the impulses that are forbidden or punished by parents and society during childhood are derived from innate instincts. Because each of us is born with these impulses, they exert a pervasive influence that must be dealt with in some manner. Forbidding them merely forces them out awareness into unconscious. They do not disappear, however. They may manifest themselves as emotional problem and symptoms of mental illness or as socially approved behavior such as artistic and literary activity. For example, if you feel a lot of anger toward your father but you cannot afford to alienate him, your anger may become unconscious, perhaps expressed in a dream about him being hurt in an atrocious accident.

Freud believe that we are driven by the same basic instincts as animals (primarily sex and aggression) and that we are continually struggling against a society that stresses the control of these impulses. The psychoanalytic perspective suggests new ways of looking at some of the problems described at the beginning of the chapter. For example, Freud claim that aggressive behavior stems from an innate instinct. Although this proposal is not widely accepted in human psychology, it is in agreement with the views of some biologists and psychologists who study aggression in animals.

1. Struktur Kepribadian menurut Sigmund Freud

Menurut Sigmund Freud ada tiga tingkat kesadaran, yaitu:

  1. Sadar (conscious)
  2. Prasadar (preconscious)
  3. Tak sadar (unconscious)

Freud berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu sistem yang memiliki 3 unsur, yaitu das Es (Id), das Ich (ego), dan das Ueber Ich (super ego).

a. das Es (Id)

Id adalah unsur kepribadian yang merupakan bawaan dari lahir bahkan dari sebelum lahir, sehingga Id merupakan bahan dasar dalam pembentukan hidup psikis selanjutnya. Naluri id merupakan prinsip kehidupan yang asli atau pertama, yang oleh Freud dinamakan prinsip kesenangan, yang tujuannya adalah untuk membebaskan seseorang dari ketegangan atau mengurangi jumlah ketegangan sehinga menjadi lebih sedikit dan untuk menekannya sehingga sedapat mungkin menjadi tetap. Ketegangan dirasakan sebagai penderitaan atau kegerahan sedangkan pertolongan dari ketegangan dirasakan sebagai kesenangan. Id tidak didorong oleh akal atau logika dan bahkan Id tidak didasari oleh etika atau akhlak, melainkan hanya didorong oleh satu faktor yaitu mencapai kesenangan atau kenikmatan sesuai dengan prinsip kesenangan.

b. das Ich (ego)

Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Proses yang dijalankan ego yaitu untuk mengurangi ketegangan. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan – ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat.

c. das Ueber Ich (super ego)

Super ego merupakan kekuatan moral dan etik kepribadian, super ego beroperasi dengan prinsip idealistic, berlawanan dengan prinsip realistis dalam ego dan prinsip kesenangan dalam Id. Karena super ego bersifat ideal maka Freud membaginya kedalam dua kelompok, yaitu suara hati dan ego ideal. Kata hati atau suara hati didapat karena hukuman dari orang tua, sedangkan ego ideal didapat dari suatu pemberian penghargaan. Oleh karena itu ego merupakan agen dari penghidupan superego dengan jalan berusaha untuk menghancurkan ego mempunyai tujuan yang sama dengan keinginan mati yang semula dalam id. Itulah sebabnya maka superego dikatakan menjadi agen dari naluri-naluri kematian.

2. Dinamika Kepribadian

a. Distribusi energy

Dinamika kepribadian, menurut Freud bagaimana energi psikis didistribusikan dan dipergunakan oleh das Es, das Ich, dan das Ueber Ich.  Freud mengatakan bahwa energi yang ada pada manusia didapat dari sumber yang sama, yaitu makanan yang di konsumsi. Energi manusia hanya dibedakan dari penggunaannya, yaitu energi untuk aktivitas fisik atau energi fisik dan energi untuk aktivitas psikis atau energi psikis.

Menurut Freud jumlah energi itu terbatas sehingga terjadi persaingan diantara ketiga unsur kepribadian untuk menggunakan dan memperolehnya. Jika salah satu unsur menggunakan energi secara berlebih maka unsur yang lain menjadi kekurangan energi. Freud menyatakan bahwa pada mulanya yang memiliki enerji hanyalah das Es saja. Melalui identifikasi, energi tersebut diberikan oleh das Es kepada das Ich dan das Ueber Ich.

b. Mekanisme pertahanan ego

Menurut Freud, mekanisme pertahanan ego (ego defence mechanism) sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorngan das Es maupun untuk menghadapi tekanan das Uber Ich atas das Ich, dengan tujuan kecemasan yang dialami individu dapat dikurangi atau diredakan (Koeswara, 1991 : 46).

Freud menyatakan bahwa mekanisme pertahanan ego itu adalah mekanisme yang rumit dan banyak macamnya. Berikut ini 7 macam mekanisme pertahanan ego yang menurut Freud umum dijumpai (Koeswara, 1991 : 46-48).

1) Represi, yaitu mekanisme yang dilakukan ego untuk meredakan kecemasan dengan cara menekan dorongan-dorongan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut ke dalam ketidak sadaran.

2) Sublimasi, adalah mekanisme pertahanan ego yang ditujukan untuk mencegah atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif das Es yang menjadi penyebab kecemasan ke dalam bentuk tingkah laku yang bisa diterima, dan bahkan dihargai oleh masyarakat.

3) Proyeksi, adalah pengalihan dorongan, sikap, atau tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain.

4) Displacement, adalah pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan kepada objek atau individu yang kurang berbahaya dibanding individu semula.

5) Rasionalisasi, menunjuk kepada upaya individu memutarbalikkan kenyataan, dalam hal ini kenyataan yang mengamcam ego, melalui dalih tertentu yang seakan-akan masuk akal. Rasionalissasi sering dibedakan menjadi dua : sour grape technique dan sweet orange technique.

6) Pembentukan reaksi, adalah upaya mengatasi kecemasan karena insdividu memiliki dorongan yang bertentangan dengan norma, dengan cara berbuat sebaliknya.

7) Regresi, adalah upaya mengatasi kecemasan dengan bertinkah laku yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya.

3. Perkembangan Kepribadian

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian

Perkembangan kepribadian individu menurut Freud, dipengauhi oleh kematangan dan cara-cara individu mengatasi ketegangan. Menurut Freud, kematangan adalah pengaruh asli dari dalam diri manusia.

Ketegangan dapat timbul karena adanya frustrasi, konflik, dan ancaman. Upaya mengatasi ketegangan ini dilakukan individu dengan : identifikasi, sublimasi, dan mekanisme pertahanan ego.

b. Tahap-tahap perkembangan kepribadian

Menurut Freud, kepribadian individu telah terbentuk pada akhir tahun ke lima, dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar itu. Selanjutnya Freud menyatakan bahwa perkembangan kepribadian berlangsung melalui 6 fase, yang berhubungan dengan kepekaan pada daerah-daerah erogen atau bagian tubuh tertentu yang sensitif terhadap rangsangan. Ke enam fase perkembangan kepribadian adalah sebagai berikut (Sumadi Suryabrata, 1982 : 172-173).

1) Fase oral (oral stage): 0 sampai kira-kira 18 bulan. Bagian tubuh yang sensitif terhadap rangsangan adalah mulut.

2) Fase anal (anal stage): kira-kira usia 18 bulan sampai 3 tahun. Pada fase ini bagian tubuh yang sensitif adalah anus.

3) Fase falis (phallic stage): kira-kira usia 3 sampai 6 tahun. Bagian tubuh yang sensitif pada fase falis adalah alat kelamin.

4) Fase laten (latency stage): kira-kira usia 6 sampai pubertas. Pada fase ini dorongan seks cenderung bersifat laten atau tertekan.

5) Fase genital (genital stage): terjadi sejak individu memasuki pubertas dan selanjutnya. Pada masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi.

Referensi:

1. Nolen-Hoeksema, S., Fredickson, Barbara L., Loftus, Geoff R. & Wagenaar, Willem A. (2009) Atkinson & Hilgard’s Introduction to Psychology, 15 Edn. New York: Cengage Learning.

2. http://www.psychoshare.com/file-149/psikologi-kepribadian/sigmund-freud-teori-kepribadian-psikoanalisa.html

3. http://books.google.co.id/books?id=a5PDCAyRgpcC&pg=PA43&lpg=PA43&dq=psikologi+kepribadian+psikoanalisis&source=bl&ots=PGd4UlrxuM&sig=MeXt22_MNxPY5TYmP3mg6p7tVoY&hl=id&sa=X&ei=YChzVL7cIcGGuATFpoHICg&redir_esc=y#v=onepage&q=psikologi%20kepribadian%20psikoanalisis&f=false

4. http://belajarpsikologi.com/struktur-kepribadian-id-ego-dan-superego-sigmund-freud/

5. http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/34/jtptiain-gdl-s1-2007-nurhadinim-1688-bab3_410-9.pdf

6. http://psychology.about.com/od/psychology101/f/psychfaq.htm

7. Iyus Yosep (2014), Pengantar Psikologi Dasar & Kepribadian.